APENSO INDONESIA

header ads

TAK ADA YANG TAHU KAPAN MALAIKAT MAUT DATANG MENGHAMPIRI KITA

“TAK ADA YANG TAHU KAPAN MALAIKAT MAUT DATANG MENGHAMPIRI KITA“


Oleh : Banu Atmoko
Apenso Indonesia



Kematian pada dasarnya adalah peristiwa universal yang akan dihadapi semua manusia hidup, tetapi konseptualisasi manusia mengenai peristiwa ini dapat beragam secara kultural dan kontekstual. Orang-orang Amerika Serikat, misalnya, memandang bahwa kematian adalah sebagai awal kehidupan, sedangkan orang-orang Polandia melihat kematian sebagai akhir atau penyerahan diri (Kuczok, 2016). 

Dengan demikian, kedua budaya itu mengonseptualisasikan kematian secara berbeda di mana masyarakat Amerika melihat kematian secara positif, sedangkan orang-orang Polandia memandangnya sebagai hal yang negatif. Di samping relativitas kultural terhadap konsep kematian, konseptualisasi terhadap kematian ini juga bervariasi secara kontekstual seperti dalam ranah agama. Sebagai contoh, karena agama Hindu dan Buddha mempercayai adanya reinkarnasi, kematian dipandang sebagai proses dari siklus perjalanan manusia sebelum ia kembali dilahirkan di dunia (Alters, 2009: 15).

Namun, karena agama Islam tidak mengenal konsep reinkarnasi, kematian tidak dipahami seperti siklus. Selain pandangan kematian sebagai bagian dari siklus tersebut, pandangan islam terhadap konsep kematian juga rupanya tidak terbatas pada tidak berfungsinya organ-organ vital (mis., jantung dan otak) yang mendukung jalannya aktivitas biologis dan neurologis yang kompleks dalam tubuh manusia seperti di dunia kedokteran, tetapi kematian secara umum juga dimaknai sebagai transendensi dari kehidupan (life) ke akhirat (afterlife) yang merupakan tujuan akhir manusia. 

Konseptulisasi kematian sebagai penengah antara kehidupan dan akhirat membuat kematian memiliki posisi penting dalam Islam. Ketika akhirat dikonseptualisasikan sebagai tempat penghakiman manusia atas perbuatan ketika hidup (lih., Al-Quran, 3: 185), kematian berperan sebagai pembatas apa yang dapat manusia lakukan selama hidup sebab di akhirat manusia sudah tidak dapat melakukan apapun lagi. 

Tradisi Islam juga mempercayai bahwa kehidupan manusia selama hidup mempengaruhi kematiannya seperti orang baik yang meninggal dengan mudah dan orang jahat yang meninggal dengan menyakitkan. Oleh sebab itu, manusia harus mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya seperti dengan melakukan kebaikan dan menjauhi larangan agama (lih., Majah & bin Yazid, 2007: 369). 

Oleh sebab itu, kematian berkontribusi sebagai penjaga moralitas para pemeluk agama Islam. Selain itu, posisi penting kematian juga dapat terlihat dari tradisi khusus untuk menghadapi kematian, seperti dengan pengakuan iman (profession of faithatau syahadat). 

Dengan demikian, pemahaman muslim terhadap kematian mempengaruhi cara masyarakat muslim Indonesia memperlakukan kematian, dan pemahaman terhadap kematian ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa para pemeluk agama Islam sehari-hari, termasuk dalam wacana ceramah.

Berkaitan dengan konseptualisasi metaforis kematian, survei terhadap metafora kematian sudah dilakukan dari sudut pandang linguistik kognitif (mis., Bakhtiar, 2014; Crespo-Fern├índez, 2006; Galal, 2014; Gathigia et al., 2018; Lakoff & Turner, 1989; Somov, 2017). Beberapa di antaranya adalah Gathigia, dkk. (2018) yang mengkaji konsep kematian dalam enam bahasa, Somov (2017) yang meneliti konsep kematian pada terjemahan injil di konteks budaya Buddha, dan Bakhtiar (2014) yang mencari konsep kematian di budaya Iran. Penelitian-penelitian tersebut telah berhasil mencari bagaimana kelompok masyarakat tutur tertentu mengonseptualisasikan kematian, tetapi penelitian mengenai konseptualisasi metaforis di ranah agama Islam, khususnya di Indonesia, belum mendapat cukup perhatian sehingga pengetahuan mengenai kematian dari sudut pandang Islam di Indonesia belum diketahui. 

Oleh sebab itu, tulisan ini bertujuan untuk memperluas pengetahuan tentang kematian dan menjelaskan konseptualisasi metaforis kematian dalam konteks agama Islam dengan fokus Islam di Indonesia dari perspektif linguistik kognitif. Tambahan pula, penelitian ini terbatas di konteks Islam di Indonesia karena luasnya persebaran Islam di dunia dan adanya perbedaan konseptualisasi kematian dari satu bahasa ke bahasa lain. 

Kematian dipandang sebagai aktivitas yang menyenangkan setelah perjalanan manusia yang melelahkan selama hidup (lihat KEMATIAN ADALAH PERJALANAN). Akibat pemetaan konseptual antara istirahat (ranah sumber) dan kematian (ranah target), kematian secara parsial tidak dipahami sebagai peristiwa yang menyedihkan atau menyeramkan meskipun kematian pada dasarnya merupakan peristiwa yang tak terhindarkan. Dengan kematian, manusia sudah tidak lagi perlu merasakan susahnya kehidupan di dunia. Oleh sebab itu, kematian tidak selalu dipandang mengerikan; kematian memiliki konotasi positif.

Pada hari Selasa, 6/7/2021 Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No. 7-9 Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir terkejut mendapatkan kabar sahabat – sahabat beliau sudah di panggil oleh Allah S.W.T. Dimana ada kabar Ust. Ismail; mantan KS SMP Islam Darussalam meninggal dunia kemarin, bapak H. SUBOWO, S.Pd, MM alumni Kepala SMP AT TARBIYAH dan alumni Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara meninggal dunia dan tadi jam 13.00 mendapatkan kabar kalau bapak Drs. LUTFI RAHMAN alumni Guru IPS SMP NASIONAL juga meninggal. Kebetulan bapak Drs. LUTFI RAHMAN adalah tetangga dari Penulis yang dimakamkan hari ini tadi pukul 16.00 di Tempat Pemakaman Umum Wonokusumo.

Hari itu, Penulis merasa Sedih mengingat sahabat - sahabat sekaligus Guru bagi Penulis sudah mendahului. Dalam kesempatan tersebut, Penulis bersama teman – teman Kepala SMP Swasta Surabaya Utara yang terdiri dari bapak KH. Drs. ASIF CHOZIN, MM Kepala SMP Kawung 1 Surabaya  ibu Dra. HJ. ERNA SAIDAH dari SMP YP 17, Drs. H. MAHFUDZ, M.Pd. I Kepala SMP Romly Tamim, bapak H. OEMAR, S.Ag Kepala SMP Kemala Bhayangkari 8, bapak AINUL YAQIN, S.Si Kepala SMP WACHID HASYIM 1 Surabaya, bapak SYAHRUL, S.Pd Kepala SMP Kemala Bhayangkari 6 Surabaya mendatangi Rumah Bapak H. SUBOWO, S.Pd, MM. 

Di sana, bapak KH. Drs. ASIF CHOZIN, MM memimpin Doa untuk Almarhum bapak H. SUBOWO, S.Pd, MM tersebut. Penulis berharap agar semua dosa – dosa almarhum dan almarhumah diampuni Allah SWT dan semoga amal ibadah almarhum dan almarhumah di terima Allah S.W.T, serta mengajak kepada rekan - rekan Pengurus MKKS SMP Swasta Surabaya Utara untuk tetap menjaga Protokol Kesehatan mengingat kondisi yang semakin parah, seperti saat ini dan Penulis mengajak untuk selalu berdoa kepada agar menjaga dan melindungi kita dari Covid - 19 karena kita tidak ada yang tahu kapan kematian akan datang menghampiri kita.
#TantanganGuruSiana  
#dispendikSurabaya 
#Guruhebat



Posting Komentar

0 Komentar