APENSO INDONESIA

header ads

MANAJEMEN SEKOLAH BERHASIL PERLU MENTAL

Opini:

MANAJEMEN SEKOLAH BERHASIL PERLU MENTAL
Oleh: Gempur Santoso

Otoritas sekolah tidak lagi diserahkan sekolah notabene pemerintah saja, tetapi juga melibatkan stokeholder: masyarakat, wali murid, siswa, dan donatur lainnya. Itulah semangat manajemen berbasis sekolah (MBS).

Dewan pendidikan dan komite sekolah sebagai lembaga independen. Mensuport, advisor, mediator, dan memberi kontrol untuk meningkatkan layanan pendidikan. Ini lembaga sebagai bagian MBS.

Asep Suryana (2009) menyebutkan konsep Manajemen Berbasis Sekolah atau disebut juga Site Based Management telah dicoba di Amerika, ternyata telah membawa dampak terhadap peningkatan kualitas belajar mengajar.

Di Indonesia pengelolaan sekolah model MBS sudah dimulai sejak sekitar tahun 1999. Sampai tahun 2019 ini sudah berjalan sekitar 30 tahun. Mengapa pendidikan kita masih belum tampak cemerlang keberhasilannya?

Jumlah anak usia sekolah tidak sekolah masih besar. Tahun 2019: Menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah 1.228.792 anak. Untuk kategori usia 13-15 tahun 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun, ada 2,420,866 anak yang tidak bersekolah. Secara keseluruhan, jumlah anak Indonesia yang tidak bersekolah mencapai 4.586.332 orang anak.

Education index kita nomor 7 di Asia Tenggara yg jumlah negaranya ada 10 (2017). Global talent competiveness index lulusan pendidikan Indonesia ranking 6 dari 10 negara di Asia Tenggara (2019). Masih rendah.

Di Indonesia MBS kurang berhasil, kurang memberi dampak positif. Padahal di AS berhasil meningkatkan kualitas pendidikan. Mengapa?

Bahkan sering kita baca berita kasus pungutan liar yang dilakukan komite sekolah ataupun pihak sekolah. Sempat mencuat komite sekolah hanyalah lembaga legalitas untuk minta sumbangan ke wali murid.

Padahal konsep MBS cukup bagus. Komite  sekolah dan masyarakat beserta pihak sekolah sejak perencanaan aktivitas  kebutuhan layanan pendidikan sekolah, sampai kontrol pelaksanaan. 

Barangkali problem kita bukan pada konsep manajeman  berbasis sekolah,  tetapi pada kemampuan akuntabilitas, budaya dan mental. Masih suka menyembunyikan dan bermental ngemis ngemis. (GeSa)


* Tulisan ini juga dimuat Koran Mingguan Swaranews, 20-30 Nov 2019, hal 8.










Posting Komentar

0 Komentar